hōm ŭv THə blūz

For those about to blog, i salute you

I have found the meaning of true love

with 3 comments

“Words can’t say what a love can do
I’ll be there for you”
(Bon Jovi – I’ll Be There For You)

Sewaktu saya kecil, ritual wajib tiap sebelum bepergian keluar rumah adalah cium pipi (well, you can read it as the ‘cipika-cipiki’ as the old fashioned said) kedua orang tua saya, terutama ke Mamah. Suatu hari, saya diajak pergi oleh Papah. Umur saya belum lagi menginjak dua digit pada waktu itu. Sehabis saya mencium Mamah, spontan saya bertanya, “koq Papah nggak nyium Mamah?“. Keduanya hanya membalas celetukan saya dengan tertawa.

Kedua orang tua saya bukanlah tipe orang tua yang romantis. Beberapa kali saya mendapati mereka beradu argumen di depan saya. Dari perselisihan skala kecil hingga yang kemudian meletus menjadi pertengkaran hebat. Itu yang membuat saya sebagai anak tunggal mereka merasa sempat tidak betah berada di rumah dan sering kabur.

Waktu terus berjalan. Umur saya mulai memasuki dua digit dan perlahan tiba di bilangan kepala 2. Saya sering bertanya apa itu makna cinta. Dari ratusan pertanyaan yang saya ajukan, ada ratusan jawaban yang saya dapat. Tapi dari ratusan pertanyaan itu, hanya satu yang benar-benar mengganggu saya. Pertanyaan simpel, apakah kedua orang tua saya saling mencintai satu sama lain? Mungkin itu pertanyaan retoris, tapi bagi saya waktu itu, pertanyaan itu sama abstraknya dengan rumus fisika tersulit.

Dan akhirnya pertanyaan saya pun terjawab. Ketika Mamah menghabiskan hari-hari terakhirnya terkulai lemah di rumah sakit, saya melihat banyak cinta disana. Papah rela menghabiskan malamnya terjaga di lorong rumah sakit, hanya untuk mengecek apakah Mamah sudah minum obat tepat pada waktunya. Papah membiarkan pola makannya kacau balau demi memastikan Mamah tidak pernah terlambat mendapat asupan makanan. Papah juga merelakan jam tidurnya jauh berkurang hanya untuk berada di samping ranjang saat Mamah tertidur. Beberapa kali pula Papah terlibat pertengkaran kecil dengan dokter dan suster yang dirasanya tidak becus saat menangani Mamah. Tidak ada yang tersisa lagi di ruang pikiran Papah saat itu selain satu kata, Mamah.

Ketika akhirnya Tuhan memutuskan Mamah untuk tidak lagi berada di tengah-tengah kami berdua, Papah terlihat sangat tabah. Tidak ada setitik pun air mata yang menetes, digantikan dengan cucuran keringat saat menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengantar Mamah menuju rumah abadinya.

Mungkin mereka berdua tidak pernah saling mengucapkan kata sayang untuk menunjukkan perasaan mereka. Tapi apa yang dilakukan Papah sewaktu merawat Mamah tidak akan mungkin tergantikan dengan jutaan kalimat ‘I love you’. Semua pertengkaran dan silang pendapat di antara mereka hanyalah sebuah bentuk lain dari rasa sayang yang mungkin tetap terlihat ganjil. Mengucapkan kata sayang adalah sesuatu hal yang terlalu gampang untuk dilakukan, tapi menunjukkan rasa sayang melalui perbuatan adalah kata ganti untuk cinta.

Hingga akhir hayat Mamah, saya yakin kalau saya belum pernah mendengar kata sayang dari Papah yang ditujukan pada Mamah. Karena cinta mereka tidak tersalurkan melalui kata-kata, namun terpancar keluar dari satu hal kasat mata yang tidak menuntut adanya batasan waktu, bebas dari prasyarat apa pun, acuh akan aspek fisik, berlimpah kesabaran, lintas masa dan tanpa pamrih. Itulah cinta sejati. The true love.

Happy (late) Valentine, everybody!
:D

Written by koboiurban

19 February, 2009 at 10:27 am

Posted in Uncategorized

Hari (tanpa) Ibu

with one comment

“And there’s no way I can pay you back. But my plan is to show you that I understand. Place no one above ya, sweet lady. You are appreciated”
(Tupac Shakur – Dear Mama)

Bahkan sewaktu Ibu saya masih ada pun saya jarang sekali, atau boleh dibilang tidak pernah merayakan Hari Ibu. Tidak juga memberi sedikit kejutan seperti mengambil alih semua pekerjaannya dalam satu hari, menempelkan kartu ucapan selamat hari ibu di kulkas atau bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat Hari Ibu.

Kebetulan Ibu saya juga cuek-cuek saja dengan Hari ini. Ketika saya melupakan hari lahirnya pun beliau masih bisa memaklumi kealpaan saya (i did it once, actually. Fuck me!!! Sorry Mom). Tidak ada sesuatu yang urgen di keluarga saya untuk merayakan Hari satu ini. Makanya saya tidak merasa ada yang spesial ketika kalender menunjukkan angka 22 di bulan ke 12.

Dan sekarang, di hari ini, tiba-tiba saya ingin sekali memberikan sedikit penghargaan untuk Ibu saya. Beliau yang sudah melalui fase blood, sweat and tears untuk membesarkan saya, anak satu-satunya yang terkadang mengabaikan pengorbanan beliau.

Seorang anak yang lebih sering membuat pusing dan stress ketimbang membanggakan, seorang anak yang lebih sering menghadapkan orang tuanya dengan kepala sekolah alih-alih masuk ke dalam jajaran siswa berperingkat bagus di kelas, seorang anak yang tanpa malunya masih saja merongrong uang jajan di usia kepala 2, seorang anak yang kini kangen berat dengan masakan ibunya, seorang anak yang rindu masa-masa ketika menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku bersama ibunya, seorang anak yang kini sedang belajar untuk menyerap saripati kehidupan dan belajar untuk bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Seperti yang dulu Ibunya ajarkan.

Dan sekarang anak itu tersadar betapa ia sangat mencintai Ibunya, yang sayangnya, tidak ada di sampingnya pada tanggal 22 Desember. Walau tidak banyak berbeda juga, because everyday is should be a Mother’s Day, to appreciate every single women in this planet with their self sacrifice. Bahkan Ibunya tidak juga bisa menerima telepon dari sang anak yang ingin sekali mengucapkan:

“Happy Mother’s Day Mom, I love you!”

Written by koboiurban

23 December, 2008 at 6:08 am

Posted in Uncategorized

Reminiscing Bokep

with 6 comments

Koq bisa tiba-tiba nulis tentang bokep? Karena Mas Handy (saya memanggilnya Mas Tangan), teman sekantor saya itu saat ini sedang sibuk dengan komputernya di pojokan. Dia ini adalah sinonim dari kato porno di kantor saya. Koleksi film pornonya ratusan, aktris favoritnya adalah Cytherea. Situs favorit? Banyak. Megaporn(dot)com, redlightarea(dot)com, and so on.

FYI, waktu saya menulis ini, jam di kantor sudah menunjukkan 3 jam lewat jam kantor. Bos sudah pulang, karyawan tinggal yang shift malam, ada koneksi internet plus ditambah status sebagai pria lajang, apa lagi yang dilakukan kalau bukan surfing gambar porno di internet? :D

Apalagi tadi siang saya sempat membaca beberapa postingan di blog orang tentang perkembangan industri porno. Semakin yakinlah saya untuk membuat postingan ini. Yang juga sekaligus membuat saya yakin kalau Balkan Kaplale, si partisan Penegak Keadilan Seksual (PKS) dan tim perumus UU Pornografi itu memang tampaknya butuh NGENTOT deh. Oops, excuse my French.

Tidak seperti anak-anak jaman sekarang yang sudah difasilitasi koneksi internet dan handset yang support format .3gp, generasi saya dulu harus bersusah-payah kalau sekedar ingin mencari sumber informasi yang berbau birahi. Maklum, internet masih barang baru dan handphone baru hanya dimiliki oleh anggota Triad Hongkong, itu juga masih berupa batangan yang besar, tebal dan berat.

Apa saja ya? Ini sebagian yang saya ingat.

1. Stensil. Eny Arrow, anyone? Ditambah scene perzinahan antara murid dan guru, anak kost dengan ibu kost, plus lokasi-lokasi di cerita yang tampaknya sangat eksploratif dan inspiratif sekali, membuat stensil cukup menjadi primadona di era saya tumbuh besar dulu. Eny Arrow membuat khayalan saya dalam bidang seks dengan lawan jenis cukup liar pada waktu itu. Dan barang jenis ini selalu saja masuk daftar teratas barang yang berhasil dikumpulkan oleh guru di razia tas murid, selain rokok tentunya. Ahh, enakkss!

2. Bokep disket pipih. Pernah menonton bokep dari disket pipih yang lebar dan besar itu? Saya pernah. Kualitas gambarnya? Lebih parah dari format .3gp yang terjelek sekalipun.

3. Majalah porno. Pasar Senen, Jakarta menyimpan banyak keaneka-ragaman barang dagangan. Di daerah belakang terminal, ada kumpulan pedagang yang menjajakan buku. Mulai dari buku bekas, buku baru, buku baru yang bajakan hingga, yak benar, majalah porno. Pedagangnya juga sangat gigih dalam mempromosikan dagangannya, kalau tidak bisa disebut sangat berdedikasi terhadap profesi. Ketika SMP, saya pernah berbelanja kesana dan diajak hingga ke gudang penyimpanannya. Isinya ratusan tumpuk majalah porno dan saya disuruh memilihnya sendiri. Waktu itu, harga empat puluh ribu rupiah untuk satu eksemplar Playboy atau Penthouse bekas membuat saya pernah mengumpulkan uang jajan sebulan penuh untuk membelinya. Hasilnya? Majalah tersebut kemudian disita oleh almarhumah Ibu yang sedang membereskan kamar saya.

4. Video Porno. Dulu DVD bahkan belum eksis. Laser disc porno pun kebanyakan masih yang semi porno. VHS/Betamax banyak yang sudah tidak punya playernya. Jadi jalan yang paling populer waktu itu adalah via VCD. Kalau ada rumah yang di terasnya banyak tergeletak sendal, pintu dan tirai jendela tertutup, serta TV menyala tapi tidak ada suaranya, sudah pasti itu sedang terjadi proses pembelajaran tentang proses reproduksi manusia melalui faham pornografi.

5. Tabloid semi porno legal. Di akhir tahun ‘90an, terima kasih untuk gelombang reformasi yang kemudian mempermudah terbitnya SIUPP, banyak sekali tabloid-tabloid semi porno yang dijual bebas di tengah masyarakat. Dengan kedok hiburan atau mistis, tabloid-tabloid itu memberi akses kepada ABG yang ingin melihat dada besar dan paha mulus. Sorry, doesn’t mean to be sexist but it’s a fact.

Ah, bokep. Pelajaran pertama bagi anak manusia yang penasaran kenapa bisa ada adik kecil di dalam perut ibu mereka. Sekaligus sebuah pelajaran untuk para orang tua konservatif yang mengatasnamakan norma kesopanan budaya Timur yang dijadikannya alasan masih tabu untuk mengajarkan seks di rumah. Yang membuat anak-anak mereka nantinya akan mencari tahu insting paling dasar mereka sebagai manusia di lembaran-lembaran stensil, helai demi helai majalah porno dan dari tumpukan VCD/DVD bokep di rumah temannya.

Saya lalu berikrar kalau nanti anak saya lulus SD, akan saya ajak nonton bokep semi porn bersama saya dan ibunya. Lalu akan saya terangkan adegan per adegan. Dan setelah itu dia akan saya beri pengertian bahwa seks itu baik kalau bla..bla..bla. Kemudian dia saya suruh main bola bersama teman-temannya di lapangan terdekat. Lalu saya melanjutkan menonton film bersama istri saya, kali ini lanjut ke tingkat hardcore porn. Lalu kami berdua menonton dengan khusyuk, lalu kami saling berpegangan tangan, kami saling mendekat, kami lalu… (censored)

The End.

:D

Written by koboiurban

18 November, 2008 at 1:14 pm

Posted in Uncategorized

Blog dan uang. Idealisme vs kebutuhan?

with 5 comments

Blog dan uang. Entahlah, itu merupakan dua kutub yang saling bertolak-belakang bagi saya akhir-akhir ini.  Perumpamaan yang paling mendekati mungkin sama dengan memasukkan pekerjaan ke dalam ruang pribadi. Walaupun dari contoh kasus yang akan saya jabarkan dibawah ini saya yakin kalau uang yang dimaksud adalah hanya sebagai tambahan pemasukan saja, tapi tetap cukup mengganggu buat saya.

Beberapa teman sekarang memanfaatkan (atau merelakan?) laman blog mereka sebagai lapangan kerja baru. Merintis blog dari nol dan ketika pagerank sudah lumayan memadai, mereka lalu ‘menjualnya’ melalui jalan mereview sebuah barang atau jasa. Entahlah, saya juga kurang faham bagaimana mekanisme kerjanya, tapi kurang lebih gambarannya seperti itu.

Menjadi menarik ketika blog yang dibangun awalnya hanya sebagai sebuah tempat, yang kalau kata teman saya, onani pikiran, sekarang berubah arah menjadi salah satu mata pencaharian sampingan. Lain halnya kalau niat awal mereka ngeblog memang sudah murni berorientasi bisnis, itu sudah beda perkara. Tapi kebanyakan blog teman-teman saya itu tadi baru berubah haluan akhir-akhir ini. Bermula untuk urusan yang sifat awalnya lebih pribadi, kemudian berubah setelah mereka mengetahui kalau menulis, selain di media konservatif, rupanya juga bisa menghasilkan uang. Ditambah lagi kalau ternyata mata uang yang digunakan ketika dikonversi ke rupiah menjadi bernilai besar. Memang sulit untuk mengabaikan godaan kurs dollar.

Jadi tampaknya sah-sah saja kalau saya bilang mereka berubah haluan. Karena dari sekian banyak contoh kasus teman-teman saya yang ‘menjual’ blognya, niat awal beberapa dari mereka dalam membuat blog bukanlah untuk mencari tambahan pendapatan. Sekadar mengikuti angin perubahan atau memenuhi kebutuhan? Mereka yang punya jawabannya.

Saya benci untuk mengatakan ini, tapi maaf, saya menganggap mereka tak ubahnya sebagai pelacur dunia maya. Modal mereka adalah halaman blog dan pagerank yang sudah lumayan tinggi. Mereka lalu merelakan halaman blog mereka ‘dikotori’ oleh satu-dua paragraf yang bisa bermuara pada rupiah. Menyempil diantara tulisan-tulisan pribadi mereka. Menjadi lebih disayangkan lagi karena ada sebagian dari tulisan teman saya itu yang sebenarnya bagus, berbobot dan berkarakter. Menjadi rusak blog sebelangga oleh review setitik. Ironis.

Memang kalau diseriusi, kegiatan mereka itu bisa berujung positif. Pernah mendengar nama Robin Malau? Bagi yang akrab dengan dunia musik cadas tanah air khususnya yang bergerak dibawah tanah, pasti nama mantan gitaris Puppen itu sudah tidak asing lagi. Di situs pribadinya, ia memberi titel rockstar turn internet geek. Ia sekarang bekerja di pulau Bali hanya dari rumahnya. Berbekal piranti komputer dan sambungan internet, ia bisa menghidupi keluarganya. Walaupun bisnisnya bukan murni via blog, tapi tidak terlalu jauh berbeda dengan jalan yang ditempuh oleh sebagian teman saya itu. Dan sepertinya juga sangat enak kalau bisa memperoleh uang diluar pekerjaan tipe konservatif yang sangat menyita waktu dan energi.

Tapi saya bukanlah hakim yang lalu mengetuk palu vonis bersalah pada mereka. Baik dan buruk itu, seperti kata Jack Sparrow, hanyalah masalah sudut pandang saja. Kalau itu pilihan mereka, saya tidak punya hak whatsoever untuk menyalahkan dan menghinakan mereka. Sama seperti saya yang hingga sekarang masih memilih untuk mencari penghidupan dari lapangan pekerjaan yang konservatif. Dalam beberapa hal, teman-teman saya itu lebih kreatif serta berhasil mendobrak pola lama dalam term bekerja dan mencari (tambahan) uang. Tidak seperti saya yang masih percaya bahwa yang namanya bekerja itu harus dalam pola kerja kantoran, 9 to 5, terjebak dalam kemacetan, dimarahi bos dan kemudian gajian di akhir bulan.

Buat saya, hidup itu jauh lebih penting daripada sekedar membahas pola dalam blogging. Dalam hidup ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu yang berupa kebutuhan jasmani maupun rohani. Dan saya tidak akan mempermasalahkan lebih lanjut kalau ada teman saya yang ingin ‘mengotori’ blog mereka. Itu jalan yang sudah dipilih oleh mereka, saya murni hanya menyuarakan sisi hati saya yang menolak cara seperti yang mereka lalui kini. Karena sekali lagi, hidup itu jauh lebih penting. Kalau ternyata apa yang mereka lakukan bisa membuat mereka tambah ‘hidup’, ya silahkan saja. Dan kalau ternyata juga memang bisa menghasilkan, dan mungkin saja lebih bagus prospeknya daripada tipe pekerjaan konservatif yang saya yakini, it’s good for them. Choice is theirs, though.

Sebagai penutup, ada sebuah kalimat dari mantan teman satu band Robin di Puppen yang sekarang menjabat posisi vokalis di grup rock Seringai, Arian 13. Suatu ketika, Arian pernah berucap bahwa “sell out itu adalah ketika elo melakukan sesuatu yang nggak elo suka hanya demi uang”. Menarik.

Written by koboiurban

18 November, 2008 at 6:58 am

Posted in Uncategorized

Kickstart my blog

with one comment

When i started this blog
All i needed, needed was a laugh
Years gone by…i’d say i’ve kicked some ass
(fuck you!)
When i’m enraged
Or hittin’ the page
Adrenalin rushing
Through my veins
And i’d say i still kickin’ all that mother fuckin’ ass
(fuck you!)

Ooo, ahh, kickstart my blog
I hope it never stops
And to think, i did all of this…
To blog

*modified from Motley Crue’s “Kickstart My Heart”. Do listen to them.

Written by koboiurban

15 November, 2008 at 2:31 pm

Posted in Uncategorized